Antara Algoritma dan Adat : Mengapa Identitas Nusantara Harus Bertahan di Era Kecerdasan Buatan

PASURUAN – Kita sedang hidup di masa di mana “kebenaran” tidak lagi ditentukan oleh kitab-kitab tua atau tutur lisan para tetua, melainkan oleh algoritma media sosial yang bekerja di ruang hampa. Di tengah arus deras informasi yang terdigitalisasi, muncul pertanyaan mendasar: di mana posisi jati diri Nusantara?

Seringkali kita terjebak dalam dikotomi yang salah: menganggap bahwa merawat tradisi berarti harus anti-teknologi, atau sebaliknya—beranggapan bahwa kemajuan adalah proses membuang identitas lama yang dianggap usang. Padahal, Nusantara lahir dari kemampuan luar biasa nenek moyang kita untuk melakukan adaptasi tanpa kehilangan akar.

Algoritma yang Seragam vs. Kearifan yang Beragam Teknologi digital, terutama Kecerdasan Buatan (AI), cenderung menciptakan standar tunggal. Algoritma menyukai keseragaman karena itulah cara termudah untuk mengonsumsi data. Padahal, esensi dari Nusantara adalah “Bhinneka”. Jika kita membiarkan algoritma menentukan apa yang harus kita baca, apa yang harus kita tonton, dan bagaimana kita berinteraksi, kita sedang membiarkan identitas kita digerus menuju homogenitas global yang hambar.

Menjadikan Teknologi sebagai Canting Modern Lantas, apakah kita harus mundur? Tentu tidak. Kita harus belajar menjadikan teknologi sebagai “canting modern”. Jika dahulu malam dan canting digunakan untuk memahat filosofi kehidupan di atas kain, hari ini kita memiliki coding, desain grafis, dan analitik data untuk menyebarkan nilai-nilai luhur kita ke seluruh penjuru dunia.

Seorang inovator lokal yang menggunakan teknologi blockchain untuk menjaga otentisitas batik, atau komunitas desa yang mendigitalisasi arsip sejarah daerahnya, adalah contoh nyata bahwa kita tidak perlu memilih antara adat atau kemajuan. Kita butuh keduanya.

Tantangan bagi Kita Semua Tantangan terbesar bagi generasi saat ini bukanlah menguasai alat-alat canggih tersebut, melainkan menjaga “isi” di dalamnya. Jangan sampai teknologi kita secanggih dunia, tapi pikiran kita kehilangan pijakan pada nilai-nilai gotong royong, tepa selira, dan rasa hormat terhadap alam yang telah ribuan tahun menjadi napas kehidupan bangsa ini.

Pada akhirnya, digitalisasi bukan tentang bagaimana kita mengubah budaya agar cocok dengan teknologi, tetapi bagaimana kita mendesain teknologi agar mampu menampung luasnya cakrawala budaya Nusantara.

Jika kita gagal melakukannya, kita bukan sedang menuju masa depan, melainkan sedang menuju pelupaan.


Catatan Redaksi:

Rubrik Opini ini adalah ruang terbuka bagi pemikiran-pemikiran kritis yang konstruktif. Kami percaya bahwa narasi bangsa yang kuat dibangun dari perdebatan yang sehat dan cinta yang mendalam terhadap tanah air. (Red)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *