Menyelami Filosofi Nasi Tumpeng: Cone Vertikal Menuju Langit, Wujud Syukur dan Harmoni Nusantara

PT. BANDHAWA KARYA NUSWANTARA

PT Bandhawa Karya Nuswantara adalah perusahaan yang bergerak di bidang multimedia, penyiaran, industri kreatif, serta pengembangan seni, yang berdiri pada tahun 2025. Perusahaan ini hadir sebagai ruang kreatif yang dinamis dan inovatif dengan komitmen menghasilkan karya yang berkualitas, inspiratif, dan memberikan dampak positif bagi dunia usaha maupun masyarakat.
Layanan yang dikembangkan meliputi produksi multimedia, penyiaran dan konten digital, desain grafis dan komunikasi visual, pengembangan seni dan musik, percetakan serta produksi kreatif, hingga platform digital dan periklanan. Dengan mengedepankan nilai integritas, kreativitas, kualitas, dan kerja sama, PT Bandhawa Karya Nuswantara berupaya menjadi mitra terpercaya dalam menghadirkan solusi kreatif yang profesional.
Melalui berbagai unit usaha seperti Nuswantara Media, Nuswantara Radio, Nuswantara Production, Nuswantara Organizer, Nuswantara Publishing, dan Kopi Oke Punya, perusahaan terus memperluas kontribusinya dalam industri kreatif Indonesia serta membangun kolaborasi dengan berbagai instansi pemerintah, swasta, dan komunitas

Contact Info



Telephone Number

0857-3129-4609

0857-4869-2687

Mail Address

bandhawa.media@gmail.com

Office Address

Jl. R.A Kartini 14, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur

Jl. Bulak Banteng Lor I no 17, Kota Surabaya, Jawa Timur


Gemini_Generated_Image_om3nk0om3nk0om3n-1024x630 Menyelami Filosofi Nasi Tumpeng: Cone Vertikal Menuju Langit, Wujud Syukur dan Harmoni Nusantara

PASURUAN – Di setiap perayaan besar di bumi Nusantara—mulai dari selamatan kelahiran, peresmian gedung, hingga upacara adat seperti Ruwahan dan Sekaten—sebuah sajian ikonik tak pernah absen. Nasi Tumpeng, dengan bentuk Cone vertikalnya yang menjulang, bukan sekadar hidangan kuliner lezat, melainkan pengejawantahan filosofi mendalam tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta, alam, dan sesama.

Transformasi makna Nasi Tumpeng ini menjadi fokus dalam rubrik Khasanah Nuswantara.media, sebuah perjalanan untuk memahami kembali akar kearifan lokal yang masih kuat melingkupi masyarakat modern.

Simbol Vertikal Menuju Ke-Esa-an Bentuk kerucut Tumpeng yang meninggi melambangkan konsep sangkan paraning dumadi—sebuah kesadaran akan asal-usul kehidupan yang bermuara pada Yang Maha Esa. “Puncak Tumpeng adalah representasi tauhid atau puncak yang melambangkan Ke-Esa-an Tuhan,” ungkap Ki Purbo Asmoro, seorang budayawan, dalam diskusi Khasanah beberapa waktu lalu.

Bentuk ini diyakini merupakan hasil akulturasi budaya kuno Jawa-Hindu, yang menganggap gunung sebagai tempat suci Mahameru, dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Walisongo. Sejak masa itu, Nasi Tumpeng menjadi bagian tak terpisahkan dari kenduri atau selamatan yang kental dengan doa-doa Islami.

Tujuh Macam Lauk dan Semangat ‘Pitulungan’ Tumpeng yang lengkap biasanya dikelilingi oleh tujuh macam lauk-pauk, yang disajikan secara melingkar di basis kerucut. Angka tujuh dalam bahasa Jawa disebut pitu, yang dimaknai secara spiritual sebagai kependekan dari pitulungan, yakni harapan akan datangnya pertolongan dalam setiap langkah kehidupan.

Beberapa elemen lauk yang sering ditemui memiliki makna simbolis tersendiri:

  • Ayam Jago (Ingkung): Melambangkan penyembelihan sifat-sifat egois dan sombong seperti ayam jago.
  • Dua Macam Ikan (Teri dan Lele): Teri yang bergerombol melambangkan kerukunan, sedangkan lele yang tahan hidup di air keruh melambangkan ketabahan.
  • Telur Rebus: Disajikan dengan kulitnya untuk mengajarkan bahwa segala sesuatu harus dikupas atau direncanakan dengan matang.
  • Sayuran (Urap): Sayur-mayur seperti kangkung (jinangkung/terlindungi) dan bayam (ayem/tenang) melambangkan harapan akan kehidupan yang aman dan tenteram.

Tumpeng Merah Putih: Simbol Persatuan Kebangsaan Seiring berjalannya waktu, Nasi Tumpeng juga mengalami inovasi sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas nasional. Tumpeng Merah Putih, yang memadukan nasi merah dan nasi putih, mulai populer, terutama dalam acara syukuran Kemerdekaan RI atau pesta rakyat. Warna merah melambangkan keberanian, sedangkan putih melambangkan kesucian hati, mencerminkan semangat juang dan kemurnian tujuan hidup bangsa Indonesia.

Integritas Budaya dan Modernitas Kehadiran Nasi Tumpeng dalam setiap perayaan di era modern ini membuktikan bahwa akar budaya Nusantara tidak pernah benar-benar lekang. Ia tetap menjadi rujukan spiritual dan sosial yang menyatukan masyarakat di tengah disrupsi zaman. Bagi Nuswantara.media, memahami filosofi di balik Tumpeng adalah langkah penting untuk terus merawat narasi kebangsaan dan melestarikan kearifan lokal yang mendalam.

Catatan Redaksi: Nasi Tumpeng bukan sekadar hidangan tradisional, melainkan sebuah simbol hidup yang menceritakan tentang identitas, spiritualitas, dan harmonisasi budaya Nusantara. Di tengah hiruk-pikuk berita duniawi, mari kita sejenak menyelami kedalaman filosofi ini—mengingat kembali asal-usul kita dan merangkul persatuan yang kokoh seperti puncak Tumpeng yang menjulang ke langit. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *